Bahasa Binatang | Diterangkan Menerangkan Diterangkan Menerangkan: Bahasa Binatang
Contact Us:

If You Have Any Problem, Wanna Help, Wanna Write Guest Post, Find Any Error Or Want To Give Us Feedback, Just Feel Free To Contact Us. We Will Reply You Soon.

Name: *


Email: *

Message: *


LiveZilla Live Help

Monday, September 15, 2014

Bahasa Binatang

Seorang pemuda memohon kepada Musa as.supaya beliau mau bermurah hati mengajarkan ilmu bahasa binatang kepadanya. Musa as., dengan kemurahan hatinya, menolak permohonan si pemuda. Kemurahan hati tidak selalu berarti memberikan segala yang orang lain minta, karena justru dengan tidak memberikan ilmu bahasa binatang itu, sesungguhnya Musa as. sedang menyelamatkan si pemuda dari bencana yang akan menimpanya. Tapi kemurahan hati Tuhannya Musa as. berbeda, sehingga setelah untuk ke sekian kalinya si pemuda memohon dengan sangat (bahasa lainnya: memaksa—sifat khas bani Israel), Tuhan memerintahkan Musa as. untuk mengajarkan ilmu bahasa binatang kepada si pemuda. Tidak semua binatang, tapi sesuai permintaan si pemuda, hanya bahasa anjing dan bahasa ayam jantan saja.

Esok pagi harinya, si pemuda yang telah menguasa ilmu dua bahasa binatang tadi bangun pagi-pagi demi mencoba ilmu barunya. Ilmu yang sebenarnya hanya bisa dikendarai oleh para nabi. Mungkin bukan hanya Sulaiman as. saja, bahkan seluruh nabi, sebab jangankan binatang, batu dan pohon saja mengucapkan salam kepada Muhammad saw..

Sepotong roti dilemparkan ke halaman. Tentu saja yang dituju oleh si pemuda adalah seekor anjingnya. Sayangnya, ayam jantan ternyata bangun lebih pagi dari anjing, sehingga sepotong roti tadi lebih dulu berada di hadapan ayam jantan. Melihat jatah rejekinya direbut ayam jantan, anjing berteriak dari kejauhan, “Tinggalkan roti itu untukku sebab sesuai dengan alat dan sistem pencernaan yang dciptakan Tuhan untuk masing-masing kita, rejekimu adalah biji-bijian dan bukannya roti.”

“Diamlah,” jawab ayam jantan, “Esok pagi, berdasar kabar dari malaikat yang turun membawa fajar pagi tadi, keledai milik tuan kita akan mati. Jadi bersabarlah, karena esok pagi engkau akan mendapat ganti rejeki yang lebih baik dan lebih banyak sebab hari ini engkau telah mengikhlaskan sepotong roti ini untukku. Percayalah, malaikat tidak pernah berdusta.”

Mendengar kabar bahwa esok pagi keledainya akan mati, pemuda-bukan-nabi yang menguasai dua bahasa binatang itu bergegas menjual keledainya, “Untung aku mengerti pembicaraan mereka, kalau tidak, aku pasti menderita kerugian.”

Benar, keesokan pagi, keledai tersebut mati. Tapi di tempat lain, sehingga anjing yang sudah puasa sehari itu marah dan mencerca ayam jantan, “Kamu yang hendak menipuku demi sepotong roti atau malaikat pembawa fajar pagi-mu itu yang telah berdusta?”

Ayam jantan yang belum menyadari bahwa tuan mereka telah mengerti bahasa mereka menjawab, “Milyaran tahun aku selalu berkokok di waktu yang semestinya, dan milyaran tahun malaikat tidak pernah berdusta. Maka bersabarlah sekali lagi, sebab esok pagi kuda tuan kita akan mati.”

Mendengar janji yang lebih besar (kuda selalu lebih besar dari keledai apalagi roti), anjing tersebut menuruti saran ayam jantan. Bersabar sekali lagi artinya berpuasa sehari lagi. Tapi sebagaimana yang terjadi kemarin, pemuda-bukan-nabi itu mengambil tindakan yang sama: menimpakan kerugian kepada orang lain, sehingga kuda tersebut mati di tempat lain.

Anjing, dengan amarah yang membuncah, mendatangi ayam jantan untuk menagih janji. Ayam jantan, dengan keheranan yang memuncak, hanya bisa menyampaikan kabar kematian yang lain lagi, “Bersabarlah sekali lagi, sebab esok pagi, giliran tuan kita yang akan mati. Sebagaimana yang kau tahu, upacara kematian selalu disertai hidangan-hidangan yang terdiri dari daging dan tulang. Memang secara ukuran tidak lebih besar dari kuda, tapi sebagaimana yang kau tahu, daging dan tulang yang dimasak dan diolah dengan bumbu jelas lebih enak dan lebih empuk sehingga tidak terlalu beresiko bagi gigi-gigimu.”

Mendengar janji yang lebih enak dan lebih empuk, anjing tersebut menuruti saran ayam jantan. Bersabar sekali lagi artinya berpuasa sehari lagi. Sementara pemuda-bukan-nabi yang mendengar kabar kematiannya, dengan ketakutan yang membumbung, berlari mencari Musa as., setelah ketemu, ia memohon agar Tuhannya Musa mengampuni dirinya yang telah menyalahkangunakan ilmu bahasa binatang yang menyebabkan dua orang lain menderita kerugian dan juga menyebabkan seekor anjing kelaparan. Namun memohon ampun tidak selalu berarti menyadari kesalahan. Permohonan ampun si pemuda tidak lain adalah sebuah permohonan yang lain: jangan cabut nyawaku. Jangankan nyawa dirinya sendiri, sedang nyawa seekor keledai dan seekor kuda saja ia tak rela.

Musa as. tidak menjawab. Beliau hanya menghadap ke langit, “Wahai Tuhan, selamatkan iman pemuda ini.”

Satu spasi setelah titik yang menutup doa Musa as., pemuda itu mati. Memang mati di tempat lain, tapi seekor anjing yang telah berpuasa tiga hari tetap mendapatkan bagiannya—yang lebih enak dan lebih empuk.

*("Bahasa Binatang" disadur dari salah satu tulisan Jalaluddin Rumi)

Padangan, 14 September 2014

Like the Post? Share with your Friends:-

Faishal Himawan
Posted By: RuangTerang

0 comments:

POST A COMMENT

Contact Us

Name

Email *

Message *

 
Copyright © . RuangTerang. Powered by Allah swt.
Designed by :-Way2themes